0

Limbah Industri Otomotif

Industri otomotif merupakan salah satu industri manufaktur yang tidak sekedar memenuhi kebutuhan masyarakat akan kepemilikan transportasi, namun juga sebagai bagian dari inovasi teknologi yang semakin maju. Manajemen limbah industri otomotif juga memiliki tahap serta proses khusus agar limbah-limbah tersebut tidak berdampak buruk bagi lingkungan. Salah satu perusahaan otomotif besar di Amerika Serikat, General Motors, dalam cetak biru yang diterbitkan tahun 2012 menginisiasi beberapa langkah strategis dalam manajemen limbah.

Landfill Free Area

Proyek manajemen limbah GM ditujukan untuk mengurangi jumlah limbah yang dibuang di tempat pembuangan akhir. Hal ini secara tidak langsung menjadi strategi untuk mengurangi jumlah limbah industri otomotif secara keseluruhan. Strategi ini mengintegrasikan rencana tujuan pengurangan limbah industri di level fasilitas dengan fasilitas sistem kerja baik itu dari penyuplai maupun penyedia jasa. Perencanaan ini perlu diawasi, diukur dan dilaporkan performanya dalam kurun waktu bulanan yang didasarkan pada tujuan pengurangan limbah industri tadi. Akhirnya pengumpulan data tersebut dapat membantu identifikasi kesempatan proyek dan memungkinkan adanya komunikasi yang lebih baik. 

Langkah Awal

Untuk mencapai tujuan tersebut, GM mengembangkan beberapa langkah yang diterapkan secara sistematis. Beberapa langkah awal yang dapat dimulai oleh

1. Data Track Waste

Secara sederhana, kita dapat mengolah sesuatu yang tidak dapat diukur. Maka pencarian dan pengumpulan data mengizinkan perusahaan untuk mengkomprehensikan semua material yang dikumpulkan  untuk digunakan lagi atau didaur ulang sehingga ada perbaikan usaha pengolahan. Limbah industri otomotif membutuhkan rencana tujuan yang spesifik dan terukur agar penanganannya menjadi tepat guna.

2. Define Zero Waste

Program zero waste merupakan sebuah kampanye kualitatif yang dicanangkan secara global. Namun dalam industri spesifik tidak ada standar yang terukur dari kampanye tersebut. Maka perusahaan perlu mengidentifikasi kriteria khusus dalam mewujudkan fasilitas zero waste.

3. Memprioritaskan Aktivitas Reduksi-Limbah

Salah satu langkah utama untuk memprioritaskan limbah adalah dengan menyusun perencanaan fasilitas bebas lahan pembuangan. Hal ini dapat dimulai dengan mengeliminasi material, penggunaan ulang material onsite maupun offsite, mendaur ulang, pembuatan kompos, dan konversi limbah industri menjadi energi. 

0

Manajemen Limbah Industri & Perubahan Iklim

Pada skala global, manajemen limbah memiliki kontribusi minor terhadap pelepasan emisi gas rumah kaca. Pada tahun 2005, UNEP mengestimasikan bahwa sektor tersebut berkontribusi 3-5% dari total emisi. Dan kontribusi ini dihasilkan oleh sistem pengolahan limbah industri dan pembuangan limbah. Meskipun demikian, pencegahan dan perbaikan sistem pengolahan limbah industri dapat berkontribusi pada pengurangan emisi yang akhirnya juga akan berpengaruh pada ekonomi. Pendekatan holistik mengenai manajemen limbah industri memiliki konsekuensi positif dalam pengurangan emisi gas rumah kaca, baik itu pada sektor industri energi, perhutanan, pertanian, pertambangan, transportasi, dan manufaktur.

Lemah Data

Setiap praktik manajemen limbah industri menghasilkan emisi gas rumah kaca, baik itu secara langsung (emisi dari proses itu sendiri) dan tidak langsung (melalui konsumsi energi). Dampak keseluruhan pada iklim maupun keuntungan dari sistem manajemen limbah industri akan bergantung pada jumlah bersih emisi gas rumah kaca. Namun angka pasti dari emisi ini sulit untuk dideterminasi dikarenakan lemhanya data jumlah limbah industri di seluruh dunia, serta ketidaktepatan model manajemen emisi. Namun sejauh ini negara anggota OECD merupakan kelompok negara penghasil metan terbesar.

Lemah Pendekatan

Meskipun telah banyak metode dan sistem yang telah diterapkan, tetap terdapat kelemahan pada pendekatan kohesif yang menghasilkan kesenjangan, duplikasi, dan disparitas kawasan ketika program UNEP dalam pengolahan limbah industri ditawarkan. UNEP melihat perlu adanya mekanisme terpusat dimana kolaborasi dengan organisasi yang sudah ada dapat terbentuk. Hal ini untuk memastikan tercapainya akses informasi yang merata, penggunaan sumber daya efektif, dan mempraktikkan transfer teknologi sederhana dan pengetahuan kepada negara-negara berkembang. 

Berangkat dari pentingnya pendekatan tersebut, UNEP menempatkan dirinya untuk membantu sebagai katalis dari aksi mitigasi perubahan iklim melalui sektor limbah industri. Bersama dengan organisasi yang sudah ada UNEP akan memberikan inisiatif yang lebih efektif secara global. UNEP memiliki peran yang sangat besar untuk menjadi pemimpin proyek PBB ini dan memperkuat kemitraan dalam sistem pengolahan limbah industri. Pembangunan kerangka strategi untuk mengimplementasi mekanisme yang diajukan membutuhkan masukan dari berbagai pemangku kepentingan. Maka itu keterlibatan semua pihak menjadi salah satu elemen penting bagi pencegahan perubahan iklim.

 (disadur dari Executive Summary UNEP Publication 2010, Waste & Climate Change)

0

Limbah Industri Pertanian Biomasa

Pertanian/agrikultur merupakan salah satu industri tua yang telah hadir sejak peradaban manusia dimulai. Peradaban manusia yang semakin modern memberikan dampak pada industri ini khususnya dalam penggunaan mesin dan alat berat untuk pemupukan, tempat penyimpanan yang semakin canggih, dan atau sistem industri yang semakin terintegrasi. Pertanian berubah menjadi industri masif yang tidak kalah penting dari industri manufaktur. Melihat hal tersebut, kita tidak dapat mengabaikan penciptaan limbah industri pertanian yang juga dihasilkan. Pengolahan sumber daya alam tidak membuat industri pertanian lepas dari permasalahan limbah yang membutuhkan manajemen strategis.

UNEP Melihat Biomasa

Melihat jenis limbah industri pertanian, UNEP mencoba melihat peluang besar yang dapat dimanfaatkan. Salah satu limbah industri pertanian yang dihasilkan adalah biomasa yang banyak dihasilkan oleh kayu, hasil panen, dan kotoran binatang. Secara global 140 milyar ton meter persegi biomas dihasilkan tiap tahunnya dari industri pertanian. Volume biomasa sebesar ini ternyata berpotensi untuk diubah menjadi sejumlah energi dan material mentah  yang setara dengan kurang lebih 50 milyar ton minyak.

Limbah industri pertanian biomasa dapat mengganti bahan bakar fosil, mengurangi emisi gas rumah kaca dan mampu menyediakan energi yang dapat diperbarui bagi 1.6 milyar masyarakat di negara berkembang yang masih kesulitan mendapat akses listrik. Dan sebagi material mentah, limbah biomasa dapat menarik potensi industri skala besar dan perusahaan level komunitas.

Biomasa Bagian Kampanye Lingkungan

Dengan munculnya kampanye global untuk mencegah efek perubahan iklim, negara-negara mencari sumber energi alternatif yang dapat meminimalisasi emisi gas rumah kaca. Terlepas dari netralitas karbon, penggunaan biomasa menjadi energi dapat mengurangi ketergantungan manusia dalam mengonsumsi bahan bakar fosil, dan akhirnya mampu berkontribusi pada ketahanan energi dan mitigasi perubahan iklim.

Ada banyak keuntungan yang didapatkan dengan menggunakan limbah industri pertanian biomasa. Biomasa dapat diperbarui dan memiliki suplai yang cenderung stabil, terutama jika diproduksi dari aktivitas pertanian. Seiring dengan meningkatnya perdebatan mengenai makanan versus bahan bakar, biomasa dapat memberikan pemasukan tambahan bagi petani tanpa mengkompromikan produksi pangan utama maupun panen non-makanan.

 

0

Teknologi Pengolahan Limbah Industri Kertas

Pembuatan kertas merupakan proses yang melibatkan beberapa langkah dalam membuat perubahan pada kayu hingga akhirnya menjadi kertas. Industri kertas juga merupakan industri manufaktur besar yang juga tentunya memiliki proses pengolahan limbah. Indutsri pulp dan kertas berusaha untuk meminimalisasi dampak limbah industri dengan cara mengusahakan penggunaan air secara efektif dan juga menggunakan proses modeling dan teknologi kidney dalam proses pengolahan air internal. Anak sungai yang dihasilkan dari penggilingan pulp dan kertas mengandung material padat. Dan metode utama yang digunakan untuk menyingkirkan material tersebut adalah penyaringan, klarifikasi, dan flotasi. Metode yang dipilih tergantung dari karakter material padat yang dihasilkan oleh limbah industri tersebut.

Pengolahan limbah industri kertas juga mencakup beberapa teknologi yang mungkin untuk digunakan secara efektif, yaitu:

Teknologi Sedimentasi
Teknologi sedimentasi merupakan teknologi paling sederhana dan paling ekonomis dalam memisahkan substansi padat dari limbah cair. Efisiensi yang tinggi dapat dicapai pada proses pengolahan anak sungai ketika material padat disaring sebelum menuju anak sungai dan dialirkan menuju tangki sedimentasi. Peralatan sedimentasi berupa lintasan berbentuk lamella biasanya sering digunakan untuk mengelola limbah industri kertas, khususnya pada aliran limbah dengan konsentrasi serat yang tinggi.

Pengolahan Biologis
Pengolahan air limbah industri kertas secara biologis didesain untuk mengurangi polutan yang dapat mencemari anak sungai dengan memanfaatkan mikro-organisme. Mikro-organisme akan menggunakan substansi limbah untuk hidup dan bereproduksi. Polutan digunakan sebagai nutrisi. Dan polutan tersebut akhirnya dapat larut dalam air dan tidak beracun.

Teknologi Anaerobik
Sejak tahun 1980an, pengolahan anaerobik dari anak sungai industri telah diaplikasikan secara luas dalam pengolahan limbah industri pulp dan kertas. Ratusan instalasi telah dipasang dan mampu menangani berbagai anak sungai limbah dari penggilingan kertas dan pulp. Pengolahan anaerobik merupakan teknik yang paling sering digunakan dan air limbah industri pulping mekanis, pulping semi-kimiawi, dan uap kertas cokelat yang terkondensasi juga dapat diolah melalui teknologi ini. 

0

Kebijakan Limbah Industri Makanan Cepat Saji

Ketika industri makanan cepat saji diperkenalkan di Amerika Serikat pada tahun awal tahun 1900an. Dimulai dari penemuan coke, burger, dan rantai makanan drive in, makanan cepat saji saat ini telah menjadi fenomena dunia. Dimulai dari A&W yang kemudian memperkenalkan sistem franchise, kebangkitan McDonald setelah Perang Dunia II, dan pelebaran pasar di tahun 1990an membuat makanan cepat saji menjadi industri pangan raksasa. Meskipun industri makanan cepat saji sangat mengglobal, pro-kontra mengenai makanan cepat saji baik dari sisi kesehatan, bisnis, maupun limbah industri bermunculan seiring dengan pertumbuhannya.

Untuk permasalahan limbah industri dan sampah yang dihasilkan, industri makanan cepat saji merupakan salah satu kontributor dalam fenomena food loss. Kelebihan produksi makanan di restoran membuat makanan-makanan ini mau tidak mau harus dibuang karena tidak layak konsumsi yang dapat berakibat bagi kesehatan maupun bisnis. Selain itu makanan cepat saji juga memiliki permasalahan di bidang pengemasan. Pengemasan makanan diharapkan dapat bersifat green-friendly dan inisiatif ini telah dilaksanakan beberapa restoran dengan mengindari penggunaan stryfoam.

Baik itu McDonald maupun PepsiCo (KFC) memiliki kebijakan internal yang mengutamakan perhatiannya pada persoalan lingkungan. PepsiCo menyatakan bahwa mereka mendukung “konservasi sumber daya alam, daur ulang, reduksi penggunaan sumber daya, dan kontrol polusi untuk menjamin air dan udara yang lebih bersih serta untuk mengurangi limbah industri di daratan”. Namun pernyataan ini tidak dielaborasi pada tindakan spesifik. McDonald juga membuat pernyataan umum yang seripa dan mengklaim untuk “aktif dalam mengusahakan konversi penggunaan minyak goreng menjadi biofuel untuk penggunaan transportasi, pemanasan, dan tujuan lainnya”, serta mengusahkan berbagai usaha penggunaan kertas toko, papan nama, kontainer delivery dan program daur ulang palet di Australia, Swedia, Jepang, dan Inggris. Di Kanada, perusahaan mengklaim dirinya sebagi “pengguna kertas daur ulang di dalam industri” untuk nampan makan, kotak, carry out bags, dan penyangga minum.

Dari pernyataan-pernyataan tersebut, kebijakan untuk pengolahan limbah industri sangatlah didukung untuk mengurang kuantitas. Namun secara kualitas perkembangan reduksi tersebut, makanan cepat saji masih menghadapi berbagi tantangan. Karena limbah industri makanan cepat saji tidak sekedar sampah pengemasan namun juga sumber daya alam yang digunakan sebagai bahan dasar makanan. Maka itu makanan cepat saji perlu kembali mempertimbangkan strategi pengolahan limbah industrinya.

 

0

Minimalisasi Limbah Industri: Cleaner Production

Kuantitas dan kualitas limbah industri dinilai dapat menjadi ancaman yang berarti bagi kehidupan lingkungan. Berangkat dari perhatian, PBB melalui UNEP (United Nations on Environment Programme) dan UNIDO (United Nations Industrial Development Organization) memiliki sebuah inisiatif bersama. Inisiatif ini dikenal dengan Cleaner Production (CP) yang mengutamakan pelaku industri untuk mengusahkan produksi barang ke arah yang lebih baik. Pada dasarnya mandat UNIDO adalah untuk mempromosikan dan mempercepat pembangunan industri berkelanjutan di negara berkembang.

CP merupakan strategi mencegah kerusakan lingkungan melalui peningkatan efisiensi proses, produk, dan jasa serta mengurangi risiko yang dapat membahayakan manusia dan lingkungan. CP sendiri menyediakn teknik tambahan yang dapat dipraktikkan untuk meminimalisasi limbah industri secara signifikan. Baik itu solusi tanpa biaya hingga solusi yang membutuhkan investasi tinggi serta teknologi yang lebih canggih, semuanya ditujukan untuk menciptakan lingkungan industri yang lebih baik. Beberapa hal dalam implementasi CP di negara berkembang adalah:

  • Good Housekeeping
    Penggunakan ketentuan dan metode yang tepat untuk menghindari kebocoran serta untuk mencapai operasi standar dan memelihara prosedur dan praktiknya.
  • Input Material Change
    Poin ini diimplementasikan dengan mengganti input bahan dasar beracun dan tidak dapat diperbarui dengan bahan dasar yang lebih ramah atau menggunakan material yang lebih tahan lama. Hal ini ditujukan untuk menekan kualitas limbah industri akhir.
  • Better Process Control dan Modifikasi Peralatan
    Dengan memodifikasi prosedur kerja, instruksi mesin, dan perekaman proses maka proses produksi dapat menjadi lebih efisien dan menunrunkan tingkat limbah industri dan emisi.
  • Technology Change
    Penggantian teknologi, rangkaian proses dan/atau jalur sintesis untuk meminimalisasi tingkat limbah industri dan emisi selama proses produksi.
  • On-Site Recovery/Reuse
    Menggunakan kembali materi yang terbuang di proses yang sama atau untuk aplikasi lain yang berguna.
  • Product Modification
    Modifikasi karakteristik produk untuk meminimaliasasi dampak pada lingkungan setelah produk digunakan.
0

Pentingnya Mengurangi Limbah Industri Tekstil

Limbah industri tekstil merupakan salah satu limbah yang banyak memenuhi tempat pembuangan akhir. Meskipun demikian limbah ini merupakan salah satu limbah yang paling mudah untuk dipakai ulang atau didaur ulang. Limbah industri tekstil di rumah biasanya berupa baju, celana, sabuk, sepatu, tas, seprai, handuk, tirai, dan lain-lain. Namun kita perlu memahami mengapa memakai lagi dan mendaur ulang pakaian kita merupakan hal yang penting.

Membantu Orang yang Membutuhkan
Untuk baju yang sudah lama namun masih pantas digunakan dapat disumbangkan untuk mereka yang lebih membutuhkan. Dengan menyeleksi beberap pakaian dan mendonasikannya, kita sudah membantu pengurangan limbah industri tekstil sekaligus membantu sesama.

Mengurangi Polusi Lingkungan
Limbah industri tekstil yang dibuang di tempat sampah langsung menuju TPA. Menumpuknya pakaian di tempat pembuangan sampah menghasilkan pembusukan yang sangat lama prosesnya dan akhirnya mencemari air maupun udara di lingkungan.

Menghemat Sumber Daya
Mendaur ulang pakaian yang masih pantas pakai dpat menurunkan jumlah sumber daya alam yang digunakan untuk memproduksi pakaian yang baru. Jika kita sudah tidak menyukai celana jins kita dan kemudian memberikannya ke orang lain untuk dipakai, maka akan berkurang eksploitasi tanah, air, dan tanaman kapas yang digunakan dalam produksi.

Dari beberapa hal di atas maka, mengurangi jumlah limbah industri tekstil mampu memberikan sumbangan besar bagi lingkungan yang lebih baik. Dimulai dari diri sendiri dan hidup secara sederhana dengan tidak membeli pakaian yang tidak akan digunakan merupakan langkah awal untuk menjaga udara dan air bersih. Permasalahan dalam daur ulang dan memakai lagi pakaian terletak pada kemauan. Karena terkadang orang merasa gengsi untuk memakai barang bekas. Padahal jika pintar memilih, membudidayakan, dan memanfaatkan, pakaian bekas juga dapat menjadi pakaian yang bagus untuk dipakai.