Budaya Konsumerisme dan Limbah Industri Rumah Tangga

Limbah industri rumah tangga merupakan salah satu indikator mengenai tingkat konsumsi masyarakat. Meningkatnya kuantitas limbah industri rumah tangga mengindikasikan kuantitasi konsumsi yang juga semakin meningkat. Dalam dunia ekonomi hal ini dapat memberikan dua dampak, perkembangan ekonomi di mana daya beli masyarakat meningkat dan tantangan bagi perekonomian untuk mengelola limbah tersebut. Maka dalam korelasi tersebut, kita dapat melihat bagaimana tingkat konsumsi masyarakat cukup banyak mempengaruhi pengolahan limbah industri rumah tangga.

Budaya konsumsi (konsumerisme) menjadi pelatuk jitu bagi peningkatan sampah di mana jumlah produk, baik itu makanan, elektronik, sandang, semakin banyak digunakan dan kemudian menjadi berlebih. Menjadi hal yang mengejutkan ketika tingkat konsumerisme di Indonesia memiliki angka yang cukup tinggi. Meningkatnya kelas menengah di Indonesia berdampak pada tingkat daya beli dan permintaan barang. Kondisi ini kemudian disertai dengan penyediaan produk yang masif beserta dengan harga yang terjangkau oleh kelas menengah.

Menurut Hasan Ansori, budaya konsumerisme di Indonesia diindikasikan melalui dua hal, yaitu budaya kafe tenda dan budaya mall. Budaya kafe tenda dipicu oleh kesediaan kelas menengah menikmati kafe-kafe dengan suasana santai dan tenang untuk bersosialiasi dengan kelas menengah yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa budaya konsumsi di Indonesia tidak sekedar konsumsi secara fisik namun juga ada kebutuhan untuk berinteraksi secara sosial. Maka limbah yang dihasilkan dari bisnis ini juga tidak hanya limbah industri rumah tangga dalam arti tradisional, namun juga limbah dalam arti sosial.

Selain budaya kafe, budaya mall juga menjadi indikasi konsumsi masyarakat Indonesia yang meningkat. Pusat-pusat perbelanjaan yang terus dibangun dan dikembangkan ‘memaksa’ kelas menengah untuk menggunakan uang mereka untuk kebutuhan gaya hidup yang lebih dari sebelumnya. Hal ini tidak menyingkirkan fakta bahwa barang-barang tersebut semakin menumpuk di rumah khususnya produk elektronik dan sandang.

Berangkat dari perubahan kelas menengah di Indonesia khususnya di kota besar seperti Jakarta, jumlah limbah industri rumah tangga pun akhirnya meningkat. Dan lemahnya, pengolahan limbah tersebut tidak sejalan dengan budaya konsumerisme yang semakin meningkat. Limbah industri rumah tangga menjadi salah satu problem besar dari budaya konsumerisme yang tidak dikontrol dan dialokasikan secara tepat. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s