Kebijakan Limbah Industri Makanan Cepat Saji

Ketika industri makanan cepat saji diperkenalkan di Amerika Serikat pada tahun awal tahun 1900an. Dimulai dari penemuan coke, burger, dan rantai makanan drive in, makanan cepat saji saat ini telah menjadi fenomena dunia. Dimulai dari A&W yang kemudian memperkenalkan sistem franchise, kebangkitan McDonald setelah Perang Dunia II, dan pelebaran pasar di tahun 1990an membuat makanan cepat saji menjadi industri pangan raksasa. Meskipun industri makanan cepat saji sangat mengglobal, pro-kontra mengenai makanan cepat saji baik dari sisi kesehatan, bisnis, maupun limbah industri bermunculan seiring dengan pertumbuhannya.

Untuk permasalahan limbah industri dan sampah yang dihasilkan, industri makanan cepat saji merupakan salah satu kontributor dalam fenomena food loss. Kelebihan produksi makanan di restoran membuat makanan-makanan ini mau tidak mau harus dibuang karena tidak layak konsumsi yang dapat berakibat bagi kesehatan maupun bisnis. Selain itu makanan cepat saji juga memiliki permasalahan di bidang pengemasan. Pengemasan makanan diharapkan dapat bersifat green-friendly dan inisiatif ini telah dilaksanakan beberapa restoran dengan mengindari penggunaan stryfoam.

Baik itu McDonald maupun PepsiCo (KFC) memiliki kebijakan internal yang mengutamakan perhatiannya pada persoalan lingkungan. PepsiCo menyatakan bahwa mereka mendukung “konservasi sumber daya alam, daur ulang, reduksi penggunaan sumber daya, dan kontrol polusi untuk menjamin air dan udara yang lebih bersih serta untuk mengurangi limbah industri di daratan”. Namun pernyataan ini tidak dielaborasi pada tindakan spesifik. McDonald juga membuat pernyataan umum yang seripa dan mengklaim untuk “aktif dalam mengusahakan konversi penggunaan minyak goreng menjadi biofuel untuk penggunaan transportasi, pemanasan, dan tujuan lainnya”, serta mengusahkan berbagai usaha penggunaan kertas toko, papan nama, kontainer delivery dan program daur ulang palet di Australia, Swedia, Jepang, dan Inggris. Di Kanada, perusahaan mengklaim dirinya sebagi “pengguna kertas daur ulang di dalam industri” untuk nampan makan, kotak, carry out bags, dan penyangga minum.

Dari pernyataan-pernyataan tersebut, kebijakan untuk pengolahan limbah industri sangatlah didukung untuk mengurang kuantitas. Namun secara kualitas perkembangan reduksi tersebut, makanan cepat saji masih menghadapi berbagi tantangan. Karena limbah industri makanan cepat saji tidak sekedar sampah pengemasan namun juga sumber daya alam yang digunakan sebagai bahan dasar makanan. Maka itu makanan cepat saji perlu kembali mempertimbangkan strategi pengolahan limbah industrinya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s