Krisis Pengolahan Air: Akses Air Bersih

Air sebagai salah satu kebutuhan utama dalam kehidupan manusia terancam menghadapi krisis. Tidak hanya berkaitan dengan persoalan kelangkaan, namun juga berkaitan dengan kualitas, seperti amankah air untuk diminum. Mayoritas permukaan bumi memang dipenuhi oleh air, namun hanya sebagian kecil air bersih yang dapat digunakan. Khususnya di negara-negara berkembang, juga terdapat permasalahan mengenai air minum yang terkontaminasi. 12% populasi bumi hidup di negara dunia ketiga, dan menggunakan 85% air dunia. Jika kualitas air minum menjadi permasalahan, maka krisis yang terjadi bukan krisis air secara harafiah, namun krisis pengolahan air.   

Perempuan dan Akses Air Bersih

Dari kesimpulan paragraf sebelumnya, kita dapat sementara menyimpulkan bahwa permasalahan utama bukan mengenai bagaimana menyediakan air yang lebih banyak di bumi. Yang lebih penting adalah sistem pengolahan air, bagaimana menyediakan akses air bersih yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Masyarakat yang tinggal di negara dunia ketiga tidak mendapatkan air bersih hanya dengan membuka keran. Tidak sedikit masyarakat yang harus pergi ke sumber air untuk mendapatkan air bersih. Dan di banyak negara berkembang dan negara dunia ketiga, perempuanlah yang bertanggung jawab untuk kebutuhan tersebut sedangkan pria bertugas menyediakan kebutuhan finansial.

Menurut Water Facts, perempuan di seluruh dunia menghasilkan total waktu 200 juta jam setiap harinya untuk mengumpulkan air. Mereka harus melewati jalan yang berbahaya, mengambil air dan mengumpulkannya supaya dapat digunakan oleh seluruh keluarga untuk kebutuhan sehari-hari (minum, mencuci, masak). Berat air yang dibawa pada umumnya mencapai 200 kilogram.

Fakta ini menunjukkan bahwa pengolahan air melalui akses terhadap air bersih yang lemah menciptakan situasi sehari-hari yang tidak mudah. Kerja perempuan di negara-negara tersebut menjadi berkali-kali lipat lebih berat, belum lagi jika musim penghujan dan persediaan air bersih di sumber air terbatas.

Kesehatan dan Akses Air Bersih

Permasalahan tidak berhenti di peran perempuan dalam mengusahakan akses air bersih, namun juga pada perspektif kesehatan. Tidak cukup minum memberikan dampak yang buruk pada kesehatan tibuh. Secara medis sebagian besar cairan tubuh hilang melalui urin tiap harinya. Maka air sebagi input bagi tubuh merupakan sesuatu yang sangat penting. Pengolahan air melalui akses tidak hanya persoalan teknis namun juga persoalan kesehatan serta performa masyarakat.

Permasalahan muncul jika air bersih yang berguna untuk kesehatan tubuh tidak dapat akses. Tubuh bisa saja kehilangan cairan tubuh terlalu banyak. Apalagi jika masyarakat menderita penyakit diare akibat cuaca, misalnya, kebutuhan air akan terus meningkat. Namun karena lemahnya pengolahan air melalui akses yang baik tidak terwujud, seseorang dapat meninggal karena diare tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s